Universitas Papua (selanjutnya disebut UNIPA) didirikan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 153 tahun 2000, tanggal 3 November 2000. UNIPA merupakan pengembangan dari Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih. UNIPA diresmikan pada hari Sabtu, tanggal 28 Juli 2001 oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi atas nama Menteri Pendidikan Nasional. Perkembangan UNIPA melalui tiga periode, yaitu periode FPPK UNCEN (1964-1982), periode FAPERTA UNCEN (1982-2000), dan periode UNIPA (2000-sekarang).
Kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang diimplementasikan di Universitas Papua merupakan bentuk pelaksanaan dari Rencana Induk Penelitian dan Rencana Induk Pengabdian kepada Masyarakat.
Kehidupan di dalam dan di sekitar kampus membawa pengalaman baru yang berbeda bagi setiap mahasiswa. Dengan lokasi kampus yang berada di 4 kabupaten yang berbeda, mahasiswa akan terbawa untuk mengembangkan wawasan yang ke depannya akan bermanfaat bagi Papua.
MEMBANGUN KEMBALI JEMBATAN ILMIAH, REKTOR UNIPA TERIMA KUNJUNGAN PIMPINAN RBGE INGGRIS
Oleh:
Humas UNIPA
Manokwari, PapuaPapua Barat,www.unipa.ac.id. – Rektor Universitas Papua (UNIPA) Prof. Hugo Warami, pada hari Kamis (12/2), didampingi oleh Kepala Lembaga Penelitian Prof. Fredy Pattiselano dan Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama Dr. Yusuf W. Sawaki, menerima kunjungan dari Mark Hughes, pimpinan Royal Botanic Garden Edinburgh (RBGE) Inggris. Pertemuan ini bertujuan untuk membahas kerjasama yang telah terputus antara kedua institusi serta merencanakan langkah-langkah kolaborasi di masa depan.
Setelah bertahun-tahun menjalin hubungan, RBGE dan UNIPA sepakat untuk mempromosikan dan menjaga kolaborasi dalam penelitian serta konservasi flora Tanah Papua (Papua Nugini). Keduanya berkomitmen untuk menjalankan kerjasama yang saling menguntungkan secara aktif.
Dalam upaya meningkatkan kolaborasi, RBGE dan UNIPA berfokus pada beberapa tujuan utama, yaitu mengumpulkan, mempelajari, dan melestarikan flora Papua. meningkatkan pengetahuan tentang flora Papua dan meningkatkan kapasitas koleksi dan penelitian di kedua institusi.
Salah satu hal menarik dari pertemuan ini adalah rencana untuk menerbitkan buku serta memberikan peluang pelatihan bagi staf UNIPA di RBGE.
Rektor UNIPA menyatakan keyakinannya bahwa kerjasama ini tidak hanya akan meningkatkan penelitian di bidang flora tetapi juga akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di UNIPA, sehingga setara dengan peneliti di belahan dunia lainnya.
Sebagai informasi, hubungan kerjasama antara Kew Herbarium dan Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih (sekarang UNIPA) telah berlangsung sejak tahun 1960-an. Kerajaan Inggris dan Belanda telah banyak berkontribusi dalam penelitian flora dan fauna di Tanah Papua. Saat ini, ribuan koleksi flora tersimpan di herbarium UNIPA, sebagian di Belanda, dan sebagian lainnya di Inggris. Kerjasama ini sempat terputus pada tahun 2002 akibat situasi politik di Indonesia yang tidak stabil.
Herbarium Manokwariense juga memainkan peran besar dalam melahirkan peneliti handal seperti Prof. OAP pertama Alm. Frans Wanggai, Prof. Charlie Heatubun, Alm. Prof. Jacob Manusawai, Prof. Rudy Maturbongs, dan guru besar lainnya yang ada di kampus UNIPA.
Kini, dengan kepemimpinan Mark Hughes di RBGE, kerjasama yang terhenti selama bertahun-tahun ini diharapkan dapat dilanjutkan. Pertemuan ini menunjukkan komitmen kedua pihak untuk kembali bekerja sama dalam mengembangkan penelitian dan konservasi di Tanah Papua.
Dengan harapan yang besar, UNIPA dan RBGE siap mengambil langkah konkret demi kelestarian flora Papua dan peningkatan kemampuan peneliti muda di masa depan.(m/i)