Universitas Papua (selanjutnya disebut UNIPA) didirikan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 153 tahun 2000, tanggal 3 November 2000. UNIPA merupakan pengembangan dari Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih. UNIPA diresmikan pada hari Sabtu, tanggal 28 Juli 2001 oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi atas nama Menteri Pendidikan Nasional. Perkembangan UNIPA melalui tiga periode, yaitu periode FPPK UNCEN (1964-1982), periode FAPERTA UNCEN (1982-2000), dan periode UNIPA (2000-sekarang).
Kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang diimplementasikan di Universitas Papua merupakan bentuk pelaksanaan dari Rencana Induk Penelitian dan Rencana Induk Pengabdian kepada Masyarakat.
Kehidupan di dalam dan di sekitar kampus membawa pengalaman baru yang berbeda bagi setiap mahasiswa. Dengan lokasi kampus yang berada di 4 kabupaten yang berbeda, mahasiswa akan terbawa untuk mengembangkan wawasan yang ke depannya akan bermanfaat bagi Papua.
RELOKASI STRATEGIS: FAKULTAS KEDOKTERAN UNIPA SEGERA PINDAH KE MANOKWARI, TERINTEGRASI DENGAN RSUD PROVINSI
Oleh:
Humas UNIPA
MANOKWARI, PAPUA BARAT, www.unipa.ac.id — Dalam langkah strategis yang berpotensi mengubah lanskap pendidikan medis di Indonesia Timur, Pemerintah Provinsi Papua Barat menegaskan komitmennya untuk merelokasi Fakultas Kedokteran Universitas Papua (UNIPA) dari Kabupaten Sorong ke Manokwari. Pengumuman penting ini disampaikan oleh Wakil Gubernur Papua Barat, Muhammad Lakotani, di hadapan ratusan wisudawan dan sivitas akademika dalam Rapat Senat Terbuka UNIPA pada Selasa (17/3). Langkah ini menandai babak baru dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor kesehatan Papua.
Langkah monumental ini bukan sekadar pemindahan geografis. Lakotani menjelaskan visi besar di balik kebijakan tersebut, yaitu integrasi antara pelayanan dan pendidikan. Tujuan utamanya adalah mendekatkan pusat pendidikan medis dengan fasilitas kesehatan tertinggi di daerah, yakni Rumah Sakit Induk Provinsi Papua Barat. Nantinya, rumah sakit tersebut akan berfungsi sebagai rumah sakit pendidikan utama, di mana para mahasiswa kedokteran UNIPA dapat langsung menangani pasien, mengasah keterampilan klinis mereka di bawah pengawasan tenaga medis profesional, dan menjembatani teori akademik dengan realitas medis di lapangan.
Pemerintah menyadari bahwa pemindahan Fakultas Kedokteran bukanlah perkara sederhana. Menanggapi kompleksitas ini, Lakotani mengonfirmasi bahwa persiapan awal dan transisi sedang berlangsung. Ia juga memberikan jaminan komitmen dari pemerintah daerah. Apabila muncul hambatan—baik dari aspek birokrasi, infrastruktur, maupun logistik—dalam proses pemindahan, hal tersebut tidak akan dibiarkan berlarut. Pemprov Papua Barat berkomitmen untuk bersinergi dengan pihak rektorat UNIPA dalam mencari solusi bersama.
Bagi publik Manokwari, kehadiran Fakultas Kedokteran di pusat pemerintahan provinsi ini diharapkan tidak hanya mendongkrak kualitas pendidikan lokal, tetapi juga menjadi solusi jangka panjang atas tantangan ketimpangan tenaga medis yang selama ini menjadi isu krusial di tanah Papua. (m/i)