Berita

This image has an empty alt attribute; its file name is WhatsApp-Image-2021-09-19-at-04.57.40.jpeg

Kampus Merdeka, Siituasi pandemi Covid-19 di Papua Barat mengubah pandangan sebagian orang tua yang melihat kurangnya peran sekolah dalam proses pembelajaran, memicu pada tingginya resiko putus sekolah. Hal ini tentu akan sangat merugikan siswa usia itu sendiri yang pada gilirannya akan meningkatkan angka buta aksara di Papua Barat termasuk tinggi di Indoonesia.

Memperhatikan kondisi yang demikian mahasiswa Universitas Papua yang tergabung dalam Unit Kelompok Mahasiswa (UKM) Katholik berinisiatif melakukan proyek kemanusian yaitu Pemberantasan Buta aksara bagi anak usia sekolah di kampung Urundopi Distrik Manokwari Utara yang terletak di pinggiran kota Manokwari.

Proyek kemanusiaan yang dilaksakan selama 6 bulan, hasilnya sangat memuaskan dan dapat meningkatkan kemampuan baca tulis siswa-siswi di kampung tersebut.  Hal ini terlihat ketika wakil Rektor III Unipa Bidang Kemahasiswaan Dr. Keliopas Krey, S,Pd, M.Si, selaku penanggungjawab  bersama Wakil Dekan III Fakultas Pertanian Herman Tubur, Sp, M.Si, selaku ketua tim penanggungjawab menghadiri acara penarikan mahasiswa setelah masa tugas mereka selesai. anak-anak lancar membaca, menulis dan melakukan atraksi-lainnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is WhatsApp-Image-2021-09-19-at-04.57.41.jpeg

Wakil Rektor III mengatakan kondisi pandemi seperti sekarang ini memaksa semua sistem bekerja secara online termasuk proses belajar mengajar hal ini menyebabkan terjadinya kesenjangan capaian belajar peserta didik. akibatnya terdapat perbedaan akses dan kualitas dalam proses belajar mengajar sebagai akibat dari pademi tersebut, ia malanjutkan yang paling terdampak adalah anak-anak di daerah terpencil dan pinggiran kota termasuk kampung urundopi yang terletak di gunung Mandopi distrik Manokwari utara sehingga Proyek kemanusiaan pemberantasan buta aksara yang dilakukan oleh UKM Kathollik saat ini adalah adalah solusi tepat. “sangat tepat jika mahasiswa melakukan langkah ini” katanya. Pak Kelly berharap kegiatan ini terus dilanjutkan ke tempat-tempat pinggiran kota lainnya untuk menolong anak-anak kita anak-anak Papua sekaligus membantu pemerintah mengurangi buta aksara di provinsi Papua Barat.

ia melanjutkan, belajar membaca dan menulis tidak harus menggunakan kertas dan pensil/pena tetapi bisa menggunakan media alam untuk mengajarkan anak-anak, ia mencontohkan  ketika melihat  buah “kelapa”  arahkan kepada anak untuk eja kata-demi kata seperti kata Kelapa  terdiri dari huruf “K-E-L-A-P-A” atau “KE-LA-PA”, dan seterusnya” kata mantan ketua jurusan Biologi fakultas MIPA Unipa.

Sementara itu kepala kampung Urundopi menyampaikan terima kasih kepada mahasiswa unipa yang sudah mengajar dan mendidik anak-anak kampung Urundopi sampai bisa membaca dan menulis.

Ketua tim penanggung jawab Herman Tubur SP, M.Si, mengatakan “Mahasiswa adalah agen perubahan oleh karena itu kehadiran mereka di tengah masyarakat harus memberikan manfaat dan melakukan perubahan sesuai motto “Ilmu untuk kemanusiaan” ia juga mengucapkan teriima kasih kepada msyarakat setempat yang sudah menerima mahasiswa untuk melakukan proyek perubahan di kampung ini. “Mohon maaf kalau selama enam  bulan dalam tugas mahasiswa melakukan kesalah-kesalahan baik sengaja maupun tidak. Semoga kehadiran mereka bermanfaat bagi seluruh masyarakat disini. Tutupnya. (m/i).